Header Ads

header ad

Di ILC Mahasiswa Dipermalukan: Memperjuangkan Yang Tak Dipahami Sama Dengan Goblok!


Berita Terkini - Tak perlu mendengarkan mahasiswa bicara di ILC pun sebenarnya, dengan mendengarkan tuntutan mereka mengenai RKUHP, baik di media sosial maupun melalui spanduk ala kadarnya pada saat demo, kita sudah tahu bahwa mereka sebenarnya tidak paham apa yang mereka sedang perjuangkan.

Mereka ini sepertinya hanya termakan hasutan di media sosial atau dorongan dari pihak-pihak tertentu yang mempunya kepentingan. Maksudnya, mereka berniat baik mau menyuarakan kegelisahan yang mereka rasakan, tetapi sumber kegelisahan mereka itu berasal dari hoaks atau hasil pengiringan opini.

Misalnya, saya mengejar orang yang diteriaki mencuri oleh seorang pencuri. Tanpa pikir panjang – hanya mendengarkan seorang telah mencuri – saya mengejar orang yang diteriaki sebagai pencuri dan kemudian menggebukinya. Padahal sebenarnya, saya sedang menggebuki orang tak bersalah. Tetapi karena saya tidak pikir panjang dan didorong rasa kepedulian terhadap sesama dan membela kebenaran, saya jadi kelihatan goblok sendiri dan bahkan menjadi seorang yang telah melukai orang yang sudah terluka – diteriaki sebagai pencuri oleh seorang pencuri.

Yang seperti ini sudah sering kali terjadi di negeri ini. Hanya berdasarkan asumsi, provokasi, dan hoaks sudah langsung bergerak dan bahkan sampai mengakibatkan korban jiwa, luka-luka dan kerusakan fasilitas umum di mana-mana.

Mengenai RKUHP dan isu yang dipersoalkan mahasiswa sudah saya bahas di dua tulisan sebelumnya, yaitu Mahasiswa Demo Biar Bebas Menghina, Ngewe, Kumpul Kebo, Aborsi & Praktik Perdukunan! Puas Lu! dan Kontroversi Pasal Penghinaan Presiden RUU KUHP – Edisi Mahasiswa Demo. Apa yang saya bahas persi senada dengan penjelasan Meneri Laoly dan ahli hukum. Tetapi karena saya ini hanyalah seorang rakyat jelata, dianggap sebagai pendukung fanatik Jokowi, tidak paham hukum, dan seorang buzzer, mereka tidak mendengarkan. Bahkan ada yang menuduh saya sebagai antek rezim. Ya ampun……

Akibat dari keteledoran mahasiswa dan tidak paham substansi yang mereka suarakan, mereka tampak seperti orang bodoh di ILC. Jadi kasihan saya melihatnya. Untung saja pembicara dari pemerintah itu masih baik-baik dan lembut-lembut, apalagi tim ahlinya. Kalau saya yang ada di situ, mungkin sudah saya goblok-goblokin tuh mahasiswa.

Coba Anda bayangkan seorang mahasiswa, dikenal sebagai aktor intelektual masa depan Indonesia, calon-calon pemimpin bangsa ini, justru bertindak tanpa pemahaman yang jelas dan terprovokasi hanya dari desas-desus media sosial serta mengabaikan substansi dari apa yang seharusnya mereka suarakan. Generasi masa depan macam apa yang akan kita lihat nanti?

Tetapi yang mamanya mahasiswa – yang terkadang sok paling benar – tetap saja membela diri dan berusaha menghindar dari kenyataan. Mereka masih berusaha membela diri dengan menyatakan bahwa mereka murni bergerak dan tidak ditunggangi siapa pun. Ini mahasiswa tingkat berapa sih?

Mereka ini tidak mengerti bahwa keluguan dan kebodohan merekalah yang sekarang digunakan para penunggang. Justru, ketika mereka merasa diri tidak ditunggangi dan sedang berjalan di jalan yang benar, saat itulah para penyusup dan penunggang merasa paling bahagia. Karena mahasiswa yakin mereka tidak ditunggangi pada saat mereka sedang ditunggangi.

Itulah sebabnya ketika Menteri Yasona bertanya siapa yang melakukan pembakaran, mereka membantah bahwa itu bukan mereka. Padahal jelas-jelas kejadian pembakaran, pelemparan dan pengrusakan dilakukan mahasiswa. Mereka juga mengakui bahwa sebagian dari mereka masih tetap bertahan di depan gedung DPR. Lah kog dengan gampangnya mereka membantah bahwa yang membakar itu bukan mereka? Kan bungul nih mahasiswa.

Anda pahamkan maksud saya. Jadi mereka ini merasa tidak melakukan tindakan pengrusakan dan pembakaran – tindakan anarkis. Tetapi pada saat yang sama mereka membantah mereka sedang ditunggangi.

Hanya ada dua pilihan. Atau mahasiswa melakukan pembakaran dan pengrusakan atau penunggang melakukan pembakaran dan pengrusakan. Kalau bukan mereka atau bukan penunggang, siapa? Tidak ada. Berarti mereka atau penunggang. Bingungkan lu?

Makanya harus diakui bahwa mungkin merekalah yang membakar dan merusak. Kalau bukan mereka berarti para penungganglah yang merusak. Maka mereka sedang ditunggangi untuk melakukan kekacauan, penghasutan dan melahirkan martir-martir agar gelombang kerusuhan semakin besar.

Kalau mahasiswa masih tak paham juga, ya pantas saja mereka ditunggangi tanpa merasa sedang ditunggangi. Ya mereka hanya kaum bungul yang tak tahu diri saja.

Maaf mahasiswa, saya tidak respek dengan cara-cara yang Anda lakukan sementara Anda adalah orang-orang yang berpendidikan. Atau mungkin demo biar libur saja?

Salam dari rakyat jelata

No comments

Powered by Blogger.