Header Ads

header ad

Kasihan Sih Mahasiswa Diperalat Para Bajingan


Berita Terkini - Saya dulu pernah jadi mahasiswa. Saya juga dulu pernah mengkritik pemerintah ketika mahasiswa. Ketika itu masih era pemerintahan SBY. Meskipun saya tidak pernah ikut demo – karena kala itu demonstrasi menjadi sarana paling efektif untuk menyampaikan pendapat, berbeda dengan sekarang ketika aspirasi itu dapat disampaikan melalui berbagai media informasi dan organisasi – tetapi saya bisa merasakan kekecewaan mahasiswa terhadap DPR dan pemerintah – sama seperti saya dulu.

Tetapi masalahnya, mahasiswa yang demo kemarin itu tidak mau mendengarkan, tidak memedulikan peringatan, tidak memahami tuntutan dan cenderung yang penting turun ke jalan serta tidak belajar dari pengalaman.

Mereka mengabaikan peringatan kewaspadaan dari berbagai pihak baik pemerintah maupun para netizen yang dengan segala analisa mereka melihat ada agenda tersembunyi para penunggang di belakang aksi mahasiswa di mana mahasiswa sendiri tidak menyadarinya. Mahasiswa terlalu percaya diri, terlalu yakin mereka tidak ditunggangi, dan balik menuduh ada yang berusaha menggembosi aksi mahasiswa.

Akibatnya apa? Ketika kerusuhan terjadi di luar kendali, mereka kelimpungan tidak tahu harus menjawab apa kecuali: itu bukan kami. Padahal bantahan itu tidak mungkin membersihkan nama mereka dari kerusuhan yang sudah terjadi. Sekalipun yang demo bukan hanya dari kalangan mahasiswa, tetapi karena mahasiswalah yang menyatakan diri akan mengadakan aksi, tuduhan sepenuhnya diarahkan kepada mereka. Karena kalau bukan mahasiswa, siapa lagi?

Mungkin yang membakar, merusak dan melempari aparat adalah para penyusup-penunggang – yang bisa jadi dari kalangan mahasiswa sendiri atau dari pihak lain – tetapi tidak lantas nama mahasiswa bersih. Karena mereka sudah yakin tidak ditunggangi atau tidak disusupi. Kepolosan pembawa petaka.

Sudah diingatkan bahwa ini bukan soal tidak mendengar kegelisahan mahasiswa. Tentangan terhadap aksi mahasiswa bukan mau menggembosi mahasiswa. Ini bukan soal tidak mendukung aspirasi mahasiswa. Ini soal stabilitas keamanan di tengah masyarakat dan negara.

Mirisnya, mahasiswa sendiri tidak benar-benar punya konsep, tidak punya argumentasi yang kuat dalam aksinya, dan tidak terorganisir dengan baik. Di lapangan, mereka dengan begitu mudahnya diprovokasi seorang ibu-ibu. Spanduk-spanduk mereka lucu-lucu dan terkadang tampak terlalu polos, tidak menyentuh substansi. Di ILC terbukti mereka tampak bodoh mengenai RKUHP, tidak paham dan termakan hoaks dari media atau mungkin dari pihak-pihak tertentu yang menginginkan demikian.

Tuntutan mereka seperti nano-nano campur aduk tidak jelas. Narasi mereka kurang menyentuh substansi permasalahan. Gerakan mereka terkesan asal turun ke jalan. Suara mereka tidak mampu menggedor pintu suara hati. Yang penting mereka teriak, goyang-goyang pagar sampai roboh, lalu dorong-dorongan. Terkesan hanya mengandalkan massa dan suara.

Tetapi memang inilah yang diinginkan oleh para bajingan penunggang gelap – entah itu elit politik, entah itu KPK, entah itu kalangan radikalis pemuja khilafah. Entah siapa penunggangnya, sama saja, sama bajingannya. Mereka memanfaatkan emosi, keluguan dan kebodohan mahasiswa. Mereka mendesain sedemikian rupa agar gerakan mahasiswa itu tampak muncul secara alami lalu kemudian mereka memanfaatkannya. Mereka juga mendesain sedemikian rupa agar akibat dari demo mahasiswa tidak terlalu parah tetapi menyampaikan pesan begitu kuat bahwa Indonesia sedang gawat dan ricuh.

Pesan darurat seperti ini sangat berakibat fatal terhadap berbagai hal. Bisa jadi pesan seperti itu akan mengancam keamanan nasional, membangkitkan jaringan teroris yang sedang tertidur, menghambat laju perekonomian, memaksa investor untuk berpikir dua kali sebelum berinvestasi di Indonesia, dan mengganggu ketertiban umum.

Apa hendak dikata pesan itu sudah terlanjur tersampaikan entah ke siapa kita tidak tahu. Yang jelas pergerakan mahasiswa yang sporadis di berbagai daerah menimbulkan kesan bahwa tidak ada tempat yang nyaman di Indonesia untuk saat ini. Berbagai daerah sedang tidak kondusif karena adanya aksi penolakan rancangan undang-undang.

Agar mahasiswa tahu dan sadar bahwa mengembalikan kesan aman dan nyaman di suatu negara itu tidak mudah. Butuh waktu lama menciptakan kesan baik tetapi hanya butuh dua hari untuk menghancurkannya. Puas lu semua.

Apa mau dikata. Mahasiswa kita masih polos-polos unyu-unyu soal politik dan dinamika di dalamnya. Kasihan sebenarnya mereka dimanfaatkan. Tetapi faktanya sudah terjadi. Kita hanya bisa mengelus dada sambil berharap ke depan mahasiswa Indonesia menjadi aktor perubahan yang bijak dan tangguh.

Oh iya dan jangan lupa, dengarkan arahan kaka pembina yang berkualitas jangan yang abal-abal seperti yang muncul di ILC kemarin.

No comments

Powered by Blogger.