Header Ads

header ad

Licik, Tolak "The Santri" Bukti UAS Pernah Memanfaatkan Kiai NU Untuk Kepentingan Politik


Berita Terkini - Film "The Santri" adalah film garapan dari PBNU yang akan segera tayang dan menimbulkan kontroversi. Sebagai ormas islam terbesar di Indonesia, PBNU ingin memperlihatkan agama Islam yang manusiawi, penuh toleransi dan menjadi rahmat bagi alam semesta melalui film garapan mereka tersebut.

PBNU adalah salah satu garda terdepan dalam mempertahankan NKRI dari kaum radikal yang menginginkan negara kita berganti menjadi sistem Khilafah, sehingga mereka mendukung penuh pemerintah untuk membuat peraturan yang melarang penyebaran ideologi khilafah, berikut sumbernya.

Tentu saja para kaum radikal sangat menolak film "The Santri" yang akan segera tayang dan menyuarakan untuk memboikot film tersebut. Alasannya adalah adanya adegan membawa tumpeng ke dalam gereja dan adegan pandang-pandangan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya. Berikut komentar UAS tentang film "The Santri" :

“Saya tak nonton film ini sampai habis, baru nengok trailernya saja. Itu yang bisa saya komentari, pertama, masuk kerumah ibadah (red. adegan muslim masuk gereja). Karena nabi tidak mau masuk ke dalam tempat, kalau di dalamnya itu ada patung berhala. Maka dalam Islam, Mazhab Syafii mengharamkan masuk ke rumah ibadah yang di dalamnya ada berhala. Kita madzhab apa? syafi," ujarnya.

“Kedua, tentang masalah laki-laki perempuan berdua-duaan tak mahram. Pandang-pandangan (red. adengan muda-mudi pandang-padangan di trailer film The Santri),” tambah Abdul Somad.

Komentar penulis : soal masuk ke dalam gereja penulis sih simple saja karena imam besar mesir saja pernah melakukannya, cek di sini. Apakah UAS merasa lebih islami dari imam besar mesir? Apakah dengan masuk ke gereja otomatis menjadi kafir?

Jika tidak menjadi kafir kenapa harus ditakutkan? Jika jawabannya dengan masuk gereja menjadi kafir maka silakan lihat gambar berikut ini :


Jika dengan masuk ke gereja seseorang menyerupai "kafir" dan menjadi bagian dari "kafir", apakah berarti Anies Baswedan sudah menjadi kafir? Jika konsisten maka silakan UAS dan kaum radikal pendukungnya buktikan dengan tidak mendukung Anies lagi sebagai pemimpin, karena bagi mereka haram dipimpin oleh seorang "kafir".

Jika masih mendukung Anies artinya kaum radikal sudah melakukan standar ganda, maka satu-satunya jawaban logis dari kritikan kaum radikal terhadap "The Santri" adalah karena mereka membenci PBNU yang merupakan benteng pertahanan NKRI dalam menghalau paham-paham radikal seperti khilafah ala HTI yang sedang mereka perjuangkan.

Lalu soal adegan percintaan dan pandang-pandangan ini bukan pertama kali ada film Islami yang menampilkan adegan tersebut. Sudah banyak judul film islami yang menceritakan tentang cinta sepasang kekasih, ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih, dan banyak judul lainnya.

Jika sebelumnya kaum radikal tidak masalah dengan film-film tersebut namun bermasalah dengan adegan pada film "The Santri", maka satu satunya jawaban logis dari kritikan kaum radikal terhadap "The Santri" adalah karena mereka membenci PBNU yang merupakan benteng pertahanan NKRI dalam menghalau paham-paham radikal seperti khilafah ala HTI yang sedang mereka perjuangkan.

Sampai sini bisa kita simpulkan bahwa alasan UAS dan para kaum radikal menolak film The Santri adalah karena kebencian mereka pada PBNU yang ada dibalik film "The Santri".

Jika kita ingat saat kampanye pemilihan presiden, UAS pernah mendekati kiai-kiai dari NU antara lain Almarhum Kiai Maimun Zubair dan Habib Lutfhi Bin Yahya. Seperti kita ketahui mereka adalah kiai sepuh NU yang mendukung Jokowi, mustahil Jokowi menang jika tanpa bantuan NU yang merupakan ormas islam terbesar di Indonesia.

Lalu apa tujuan UAS mendekati mereka jika akhirnya sekarang kita ketahui bahwa UAS berada di barisan kaum radikal yang membenci PBNU? Jika kita ingat, maka banyak dari pemilih NU yang saat itu memuji UAS yang berkunjung ke kiai NU, bahkan mereka menjuluki Syekh Abdul Somad. Artinya bisa kita lihat di sini kunjungan UAS berhasil menarik simpati dari kalangan NU pendukung Jokowi.

Ya dari penjelasan di atas kita tahu kalau tujuan UAS adalah untuk menarik simpati pemilih dari kalangan NU, namun setelah mendapatkan simpati pemilih NU pada saat-saat terakhir UAS malah bertemu Prabowo dan meramal bahwa Prabowo yang akan menjadi Presiden.

Jadi bisa kita simpulkan kalau kedatangan UAS kepada kiai-kiai NU adalah untuk memanfaatkan mereka agar dapat menarik simpati pemilih dari kalangan NU, setelah mereka simpati maka UAS akan membuat mereka menjadi memilih Prabowo dengan menceritakan tafsir mimpi yang ternyata terbukti salah.

Beruntung NU diisi oleh kalangan-kalangan cerdas yang tidak mudah diperdaya oleh manuver politik dari UAS. Akhirnya Jokowi tetap menang dengan bantuan NU dan kekalahan Prabowo malah mempermalukan UAS yang dengan yakin telah mendapat sinyal dari Allah bahwa Prabowo akan menjadi Presiden.

Allah tidak pernah tidur, dia tahu mana yang baik dan mana yang tidak, sehingga semua manuver politik UAS gagal total dan Jokowi tetap melaju menjadi Presiden.

Sumber :

https://muslim.okezone.com/read/2019/09/19/614/2106768/ini-2-adegan-film-the-santri-yang-dikritik-ustadz-abdul-somad

https://news.detik.com/berita/d-4420802/ustaz-abdul-somad-sowan-ke-mbah-moen-belajar-ilmu-tawaduk

https://seword.com/politik/licik-tolak-the-santri-bukti-uas-pernah-memanfaatkan-kiai-nu-untuk-kepentingan-politik-2jKbl06KnW

No comments

Powered by Blogger.