Header Ads

header ad

Somad Tak Berubah, MUI Kewalahan


Berita Terkini - Menjadi seorang ustad atau ulama di Indonesia, statusnya sudah seperti malaikat. Bebas berfatwa, bebas mencela. Somad, secara terbuka pernah menyerang artis Rina Nose. Gara-garanya, Rina memutuskan untuk tidak pakai hijab. Di depan para jemaahnya, Somad merendahkan Rina dengan sangat jelas. Tapi apakah kemudian Somad sadar dan mau meminta maaf? NO! malah Somad semakin menjadi-jadi dan merasa dirinya sudah benar.

Selanjutnya, Somad ceramah tentang adanya jin kapir dalam patung yesus dan salib. Itulah kenapa kita dibuat merinding kalau melihat salib dan patung, karena ada jin kapirnya. Kristenisasi diklaim sebagai gerakan serius, karena bahkan ambulan pun adalah bagian dari kristenisasi, karena simbolnya plus.

Kasus ini sempat dilaporkan oleh beberapa orang. Bahasan tentang Somad dibicarakan banyak orang. tapi lagi-lagi, Somad tak mau meminta maaf atas ceramah kontroversialnya. Karena dia merasa sedang membahas aqidah. Bahkan, dengan sombong luar biasa, jika dia meminta maaf, maka ayat alquran harus dibuang. Benar-benar permintaan maaf yang sangat mahal, seolah ucapan maaf dari Somad, kesuciannya sejajar dengan wahyu.

Pekan ini, Somad kembali membuat pernyataan kontroversial. Mengomentar film The Santri, adegan santri masuk ke gereja langsung divonis haram oleh Somad. Selain itu, Somad juga terlihat berceramah tentang film korea. Yang kebanyakan kafir, tidak sunat dan sebagainya. Suka pada orang kafir maka akan menjadi bagian dari kafir. Condong hatinya pada orang kafir.

Melihat ceramah dan pernyataan kontroversial Somad, MUI tak berkutik. Pada kasus jin kapir, MUI bisa menerima alasan Somad, bahwa ceramah tersebut dilakukan tertutup dan hanya untuk muslim saja. Di masjid. Seolah kalau di dalam masjid, ustad jadi bebas mencela keyakinan agama lain.

Soal ceramah film korea, MUI lagi-lagi tak berkutik. Mereka berdalih tak yakin Somad mengatakan penonton drama korea kafir. Ya ini kan soal bahasa dan komunikasi saja. MUI sudah pasti tahu. Videonya ada kok. Tinggal mau nonton apa nggak. Tapi ya begitulah, mereka selalu menghindar, seolah setia membela Somad.

Sebagai muslim, saya malu mendengar ceramah-ceramah Somad. Dan karena dia menyandang label ustad, seolah orang ini mewakili ajaran agama yang kita yakini. Saya bahkan sampai meminta maaf pada teman-teman kristen dan katolik untuk kasus jin kapir, saking malu dan nggak enaknya. Ya gimana, teman saya banyak yang kapir dan baik-baik. Santun, sopan, jauhlah dibanding kader FPI, HTI dan sejenisnya. Kayak langit dan sumur.

Tapi sekarang, kita dibuat malu lagi. Coba bayangkan, gimana perasaanmu saat membaca komentar “kalau muslim masuk gereja bawa nasi tumpeng hukumnya haram, kalau bawa bom halal gitu?”

Dosa kita pada minoritas sudah terlalu banyak. Pengeboman itu fakta. Toleransi semakin menipis, itu juga fakta. Lalu sekarang kita kembali diberi beban moral, diwakili oleh orang yang terus menerus menyebarkan provokasi dan propaganda, entah untuk tujuan apa.

Somad memang semakin terkenal. Bayarannya pun mungkin sudah sangat mahal. Karena orang tak peduli apakah mereka kenal karena ceramahnya bagus atau ceramahnya buruk, karena terkenal bisa dengan keduanya. Tapi apakah ini yang kita harapkan dari seorang ustad atau pemuka agama, yang mewakili kita semua?

Saya juga sudah kehabisan kata-kata. Karena bahkan Habib Quraish Shihab pun sampai berkomentar, bahwa kalau itu terjadi pada dirinya dan orang tersinggung, beliau akan minta maaf. Tapi ya begitulah, hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Somad bersikap seolah tak pernah mendengar pernyataan ulama ahli tafsir yang sudah diakui dunia internasional.

Kalau sudah begini, nampaknya hanya Allah saja lah yang bisa menolong kita dari ceramah-ceramah provokatif Somad. Ya gimana, MUI tak berkutik, ulama berkharisma juga tak didengarnya? Siapa lagi yang bisa menegur Somad? Cuma sang Pencipta. Sambil belajar pasang muka tembok kalau ketemu dengan kawan-kawan nonmuslim.

Semoga pada akhirnya kita jadi terbiasa dengan ceramah-ceramah kontroversial Somad. Dan semoga kita semua bisa sepakat, bahwa Somad, sekalipun disebut ustad, tapi dia tak pernah mewakili ummat muslim di Indonesia. Dia dengan pemahamannya sendiri, dan itu bukan ajaran Islam yang kita kenal dan yakini. Semoga dengan begitu tak ada lagi yang mau mengundangnya ceramah, agar kita tak lagi terprovokasi dengan ceramah-ceramahnya. Begitulah kura-kura.

No comments

Powered by Blogger.