Header Ads

header ad

Ternyata Mahasiswa Demo Karena Kemakan Propaganda Hoax


Berita Terkini - Sejak awal ada gerakan demo, saya kebingungan. Karena tak biasanya mahasiswa ini berdemo dengan banyak sekali tuntutan. Sampai tak jelas sebenarnya apa yang mereka permasalahkan. Hanya intinya, pasal kontroversial. Tapi kalau ditanya pasal yang mana? pasti jawabnya adalah pasal-pasal yang bersumber dari provokasi atau propaganda media.

Dalam lingkungan elite politik, ketika media kredibel digerakkan serentak untuk memuat berita-berita yang agak melenceng, biasa disebut dengan opsus atau operasi khusus. Nah, opsus terhadap RUU KUHP ini nampaknya menghabiskan anggaran yang sangat besar. Karena yang disasar adalah media-media besar, media mainstream yang selama ini dicitrakan berimbang. Panutan banyak orang.

Tak hanya media, tokoh-tokoh publik yang diprovokasi untuk bersuara bukan hanya satu dua orang. Bahkan para artis yang diketahui pendukung Jokowi, ikut menyuarakan penolakan RUU KUHP dengan logika-logika sederhana dan salah kaprah. Korban plintiran. Pertanyaannya kemudian, apakah tokoh publik dan artis itu juga bagian dari target opsus?

Di sisi lain, antara pemerintah, kementerian terkait dan DPR tidak mampu membangun jembatan komunikasi dengan publik. Tak ada yang bisa menjelaskan secara sederhana tentang RUU KUHP yang sedang dipermasalahkan. Bahkan lebih buruk dari itu, tak ada tim yang mampu melawan opsus ataupun narasi-narasi propaganda dari kelompok penolakan RUU KHUP.

Sehingga saat media melakukan plintiran, tokoh-tokoh publik berkomentar asal-asalan dan menyesatkan, tak ada pembanding yang seimbang. Tak ada tokoh atau tim komunikasi yang mampu memberika perlawanan dan penjelasan. Tak ada staf kementerian yang merespon.

Pak Yasonna sebagai Menteri sampai harus turun tangan sendiri, menghadapi para mahasiswa dan orang LSM macam Haris Azhar. Para pakar perumus RUU KUHP, yang seharusnya berada di level perumusan, sampai harus dibiarkan datang sendiri memberikan jawaban, meluruskan provokasi dan propaganda sesat hasil opsus media.

Ke mana para humas dan tim komunikasi di kementerian? Jangankan bertarung melawan opini di sosial media, bahkan di media mainstream pun mereka tak mampu muncul.

Sehingga inilah yang terjadi. Demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa, adalah hasil dari ketidak tahuan. Korban propaganda media. Hal ini dapat dibuktikan ketika sampai semalam, ketika para pimpinan BEM mahasiswa dari universitas ternama seperti UI atau UGM, secara gamblang menunjukkan betapa mereka sejatinya tak tahu apa-apa soal RUU KUHP ini.

Alasan mereka turun ke jalan, didasari oleh propaganda opsus. Mereka tak sadar bahwa cerita perempuan pulang malam bisa dipidana adalah hoax dan pelintiran media. Mereka tidak sadar bahwa isu perempuan, RUU dinilai tak melihat dari perspektif korban terkai pemerkosaan, yang dipidana jika menggugurkan kandungannya, adalah kesalahpahaman. Lagi-lagi berkat opsus media. Padahal nyatanya RUU itu sendiri menyempurnakan, agar korban pemerkosaan dimungkinkan mengugurkan kandungannya. Dengan syarat kurang dari 60 hari, karena kalau lebih dari itu tidak baik secara medis.

Tapi, lebih dari itu, selain berkat propaganda opsus media, mahasiswa-mahasiswa kita nampaknya memang tak bisa membedakan antara penghinaan dan kritik. Sehingga dianggap sama. Bahkan Yasonna sampai harus memberikan contoh yang sangat gamblang pun, mengajari mereka apa bedanya kritik dan penghinaan.

“Kamu kalau bilang saya ga bisa kerja, ga becus, ga masalah. Tapi kalau kamu bilang saya anak haram, sampai ke lubang semutpun kamu akan saya kejar,” begitu kira-kira kata Yasonna.



Dan yang membuat saya miris, kebodohan anak-anak BEM yang tampil di ILC semalam sudah sampai pada taraf tidak bisa dimaklumi. Kebodohannya sangat mendasar, kita seolah sedang menonton emak-emak korban hoax sedang ngoceh.

Presiden mahasiswa Trisakti, semalam terlihat tak update dan tak tahu perkembangan. Bahwa tuntutannya agar bahasan RUU KUHP harus menunggu anggota DPR periode selanjutnya.

“Sikap kita bukan ingin menunda, tapi kami menolak sampai periode DPR yang sekarang selesai. artinya kalau ditunda, hari ini ditunda dua hari berikutnya bisa saja disahkan,” katanya.

Karni Ilyas yang mendengar ini langsugn menanggapi bahwa yang dinyatakan Presiden memang itu. Maksud menunda bukan diselesaikan oleh DPR periode sekarang, tapi diserahkan pada DPR periode selanjutnya. Yasonna dari kejauhan hanya tertawa kecil mendengar tuntutan mahasiswa yang sebenarnya sudah 6 hari lalu diputuskan oleh Presiden Jokowi. Viral kok. Semua orang tahu. Masa mahasiswa ini ga tahu ya? Apa ga punya kuota?

Tapi lagi-lagi, si Presiden mahasiswa Trisakti itu malah gagal fokus menanggapi, dikiranya itu pernyataan Karni Ilyas sendiri.

“Kalau itu kita sepakat setuju. Berarti artinya sampai periode DPR yang ini selesai tidak dibahas. Itu kita setuju,” kata si mahasiswa.

“Itu tegas sekali Presiden kemaren,” jawab Karni Ilyas.

“Nah iya Pak Karni. Karena di sini yang multitafsir menunda ini menunda seperti apa? apakah hari ini saja apa sampai periode selanjutnya?” kata si mahasiwa lagi.

dan Karni Ilyas dengan mata yang agak besar itupun membuka matanya lebar-lebar. Tapi tetap sambil terengah-engah khasnya. “sampe di akhir jabatan nanti. jabatan bukan yang ini. yang ini tinggal berapa hari lagi?”

Lalu si Presiden mahasiswa Trisakti itu hanya bisa bilang “siap terima kasih bang Karni.”

Ini kan artinya, jangankan mau membaca RUU yang isinya ratusan pasal, jangankan menganalisa apa yang diberitakan oleh media, bahkan soal pernyataan Presiden menanggapi isu ini pun mereka tidak tahu. Pernyataan Presiden kurang 2 menit.

Saya tak tahu apa yang terjadi pada mahasiswa ini. Kalau Presiden mahasiswanya saja seperti itu, apa kabar anak buahnya? Ya pantas saja mereka bawa poster seperti sedang ingin menulis status di sosmed.

Sumber : https://seword.com/umum/ternyata-mahasiswa-demo-karena-kemakan-propaganda-hoax-4sV01MTa0o

No comments

Powered by Blogger.